Karawang – Di atas kertas, Kelurahan Mekarjati adalah bagian dari Kecamatan Karawang Barat, sebuah wilayah yang menjadi urat nadi perkotaan dan industri. Namun, bagi H.Hermawan (60), realitas di lapangan berkata lain. Baginya, Mekarjati seolah sedang mengalami "krisis identitas"—menyandang status kelurahan kota, namun denyut pembangunannya masih terasa seperti desa tertinggal.5/2/2025
Langkah kaki pria sepuh ini membawa keresahan itu langsung ke meja Camat Karawang Barat, H.Agus Somantri, S.IP, MP. Kedatangannya bukan membawa proposal proyek, melainkan membawa cermin besar agar pemerintah melihat ketimpangan yang nyata.Gugatan Terhadap Rutinitas
"Dengan nada bicara yang lugas namun penuh kepedulian, H.Hermawan menumpahkan kegelisahannya. Ia membandingkan Mekarjati dengan tujuh kelurahan lain seperti Nagasari atau Karangpawitan yang sudah gemerlap dengan fasilitas urban.Masa sih, pembangunan di Kelurahan Mekarjati setiap tahun hanya program jalan usaha tani melulu?" cetus H.Hermawan. Pernyataan ini menjadi kritik pedas sekaligus refleksi bahwa perencanaan pembangunan di sana seolah berjalan di tempat, terjebak dalam pola lama yang tidak menyentuh kebutuhan masyarakat modern.Menurutnya, lingkungan Mekarjati yang masih "rasa desa" bukan lagi sebuah keasrian yang membanggakan, melainkan simbol ketertinggalan prasarana. Ia mendesak adanya perubahan radikal pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) melalui Bappeda Kabupaten Karawang.
"Sudah saatnya di Mekarjati berdiri perguruan tinggi, rumah sakit, hingga pusat ekonomi UMKM. Kami ingin sejajar dengan kelurahan lain," tegasnya.Respons Konstruktif Pemerintah,Mendengar aspirasi yang "pedas" namun bergizi tersebut, Camat Karawang Barat, H.Agus Somantri, tidak defensif. Baginya, suara Hermawan adalah suntikan motivasi bagi birokrasi.
Agus mengakui bahwa untuk mengubah wajah Mekarjati, diperlukan keberanian untuk keluar dari zona nyaman pembangunan konvensional. Ia berkomitmen untuk membawa suara ini ke level yang lebih tinggi.Ini masukan yang sangat sehat. Kami akan mendorong agar Musrenbang ke depan tidak lagi bicara soal jalan tani secara berulang, tapi mulai memetakan fasilitas publik yang bisa memancing pertumbuhan ekonomi kota," ujar H.Agus Somantri. Ia berjanji akan berkoordinasi dengan Bappeda terkait peninjauan RTRW agar Mekarjati bisa menyerap investasi pendidikan dan kesehatan.
Harapan Baru.Pertemuan di kantor kecamatan itu menjadi pemantik api harapan baru bagi demokrasi tingkat lokal. Di satu sisi, ada tokoh masyarakat yang berani bersuara kritis demi kemajuan tanah kelahirannya. Di sisi lain, ada pejabat wilayah yang membuka diri untuk kolaborasi.
"Kini, warga Mekarjati menunggu. Apakah "jalan tani" yang membosankan itu akan segera berganti dengan fondasi rumah sakit atau gedung universitas? Perjalanan menuju kelurahan kota yang sesungguhnya memang masih panjang, namun setidaknya, lonceng perubahan telah dibunyikan dengan keras dari ruangan camat siang itu.***
Mantri Sudarma