Karawang - Duka mendalam menyelimuti sebuah keluarga di Desa Mulyajaya, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang. Seorang bayi perempuan berusia 8 bulan, Sri Nuryeni, harus bertarung melawan penyakit jantung bocor sejak lahir, di saat hidupnya seharusnya dipenuhi tawa dan kasih sayang.
Namun kenyataan berkata lain. Hari-hari Sri Nuryeni justru diwarnai dengan keluar masuk fasilitas kesehatan. Sang ibu, Karti (43), mengungkapkan bahwa putrinya telah dua kali menjalani pengobatan di RSUD Kabupaten Karawang. Sayangnya, kondisi sang bayi belum membaik dan masih membutuhkan penanganan dokter spesialis.
“Sejak lahir sudah berobat. Sudah dua kali dibawa ke RSUD Karawang, dan didiagnosis jantung bocor,” ujar Karti dengan suara lirih, Kamis (9/4/2026).
Di tengah perjuangan melawan penyakit, keluarga ini juga dihimpit persoalan ekonomi yang berat. Biaya pengobatan lanjutan menjadi beban yang tak sanggup mereka pikul. Lebih dari itu, rumitnya persoalan administrasi semakin memperpanjang penderitaan.
“Saya tidak punya biaya. Semoga ada bantuan agar anak saya bisa sembuh,” ucap Karti penuh harap.
Kondisi ini mengundang keprihatinan Kepala Desa Mulyajaya, Endang “Macan Kumbang”. Ia menilai, kasus ini menjadi cerminan nyata masih lemahnya akses layanan kesehatan bagi masyarakat kecil.
“Saya sangat prihatin. Bayi 8 bulan sudah menderita jantung bocor. Dari pihak desa, kami hanya mampu membantu kebutuhan dasar. Untuk pengobatan, jelas membutuhkan biaya besar dan penanganan dokter spesialis,” ungkapnya.
Ia pun mendesak pemerintah daerah, khususnya Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, agar tidak tinggal diam melihat kondisi ini.
“Kami berharap ada kepedulian nyata dari pemerintah dan semua pihak agar anak ini segera mendapatkan penanganan maksimal dan memiliki harapan untuk sembuh,” tegas Endang.
Kisah Sri Nuryeni bukan sekedar cerita pilu, tetapi tamparan keras bagi sistem pelayanan kesehatan. Di tengah berbagai program jaminan kesehatan, masih ada masyarakat yang terhalang biaya dan birokrasi untuk mendapatkan hak dasar mereka.
Kini, nasib Sri Nuryeni menjadi perhatian publik. Harapan pun bertumpu pada kepedulian banyak pihak, agar tangis bayi kecil ini bisa berubah menjadi senyum, dan ia mendapat kesempatan hidup yang lebih layak.
Penulis: Alim